Aku memilih menanam kangkung karena alasannya cukup simpel. Kangkung gampang ditemukan, sering dimasak di rumah, dan katanya juga cepat tumbuh. Jadi menurutku cocok banget buat dicoba. Dari awal, aku pengin ngerasain aja gimana rasanya makan sayur yang ditanam sendiri.
Kegiatan ini juga bagian dari tugas pembelajaran. Lewat proyek ini, aku belajar buat lebih menghargai ciptaan Tuhan, termasuk tumbuhan kecil yang sering kita anggap sepele. Aku ngerjain proyek ini bareng Yumna, jadi rasanya lebih seru karena bisa saling cerita dan bandingin perkembangan tanaman.
Di hari pertama, kami mulai dengan nyiapin pot, tanah, dan benih kangkung. Tanah yang dipakai tanah hitam dicampur sedikit pupuk biar lebih subur. Benih kangkung bentuknya kecil banget, kayak titik-titik hitam.Kami taburin benih di atas tanah, lalu ditutup tipis dan disiram pelan-pelan. Waktu itu rasanya biasa aja, tapi juga penasaran, bakal tumbuh nggak ya?
Catatan kecilku:
> Benihnya kecil, tapi kalau dirawat dengan benar, bisa tumbuh juga.
Hari-hari berikutnya diisi dengan nyiram tanaman pagi atau sore. Awalnya belum kelihatan apa-apa, jadi sempat kepikiran, “Ini bener nggak sih cara nanamnya?”Beberapa hari kemudian, akhirnya muncul tunas kecil warna hijau. Aku sama Yumna seneng banget lihatnya, walaupun masih kecil. Dari situ kami jadi makin rajin ngecek tanaman setiap hari.
Catatan kecilku:
> Nunggu tanaman tumbuh itu butuh sabar, nggak bisa buru-buru.
Masuk hari-hari selanjutnya, kangkung mulai tumbuh lebih tinggi. Daunnya makin banyak dan warnanya hijau segar. Kami pastiin tanamannya kena matahari yang cukup dan tetap disiram rutin.Dari sini aku sadar, ngerawat tanaman itu nggak cukup sekali dua kali. Harus konsisten. Kalau sehari aja lupa nyiram, pasti kepikiran.
Catatan kecilku:
> Merawat tanaman itu soal kebiasaan, bukan cuma niat di awal.
Di tengah proses menanam, sempat ada kejadian yang bikin kesel. Tanaman kangkung kami rusak, ada yang tercabut dan kelihatan nggak keurus. Awalnya aku kesel dan sedih karena ngerasa usaha kami sia-sia.Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin yang ngerusak nggak tahu kalau itu tanaman penting buat tugas. Akhirnya kami milih buat benerin tanaman yang masih bisa diselamatkan dan mindahin pot ke tempat yang lebih aman.
Dari kejadian ini aku belajar:
> Ngerawat tanaman bukan cuma soal nanam, tapi juga jaga supaya tetap aman.
Selama 21 hari menanam kangkung, aku dapet beberapa pelajaran:
Harus sabar, karena tanaman tumbuh ada waktunya Harus konsisten, karena disiram tiap hariJangan gampang nyerah, meskipun tanamannya sempat rusakTanaman dan manusia saling butuh
Lewat kegiatan ini, aku jadi lebih sadar kalau tumbuhan itu bagian dari ciptaan Tuhan yang perlu dijaga. Benih bisa tumbuh karena ada tanah, air, dan sinar matahari. Semua itu bukan hasil usaha manusia aja, tapi juga anugerah dari Tuhan.Merawat satu pot kangkung jadi latihan kecil buat belajar tanggung jawab dan peduli sama lingkungan.
Setelah kurang lebih 21 hari, kangkung akhirnya bisa dipanen. Rasanya seneng karena hasil dari ngerawat tiap hari akhirnya kelihatan. Kangkung yang sudah dipanen kami olah jadi kangkung tumis jamur.Pas dimakan, rasanya lebih enak dari biasanya, mungkin karena tahu prosesnya dari awal sampai akhir.
Dari kegiatan menanam kangkung ini, aku nggak cuma belajar cara menanam, tapi juga belajar sabar, tanggung jawab, dan lebih menghargai alam. Sekarang aku jadi lebih menghargai sayur yang sering kita makan sehari-hari.
Tuhan, terima kasih untuk kesempatan belajar lewat menanam kangkung.Terima kasih untuk alam dan semua ciptaan-Mu.Ajari kami untuk terus menjaga dan menghargai apa yang sudah Engkau berikan. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar