Kamis, 27 November 2025

SMW


On this occasion, I would like to share my experience participating in the Saint Mary Ways activity. This activity is a school project held for 9th-grade students of Santa Maria Junior High School. The purpose of this program is for us to learn and follow the values and example of Mother Mary, especially in caring, sincerity, and serving others. When I first heard that we would be taking part in this activity, I felt very happy and excited. I knew this program would definitely give me a valuable new experience.

In this activity, we were divided into groups based on each of our churches. I was grouped with Nashya, Clo, Nathan, and Rafael. We agreed to carry out the activities at our church, GPIB Maranatha, and our main focus


was helping with Sunday school activities. In addition, other activities such as neighborhood prayers, choir, and visits to nursing homes and orphanages were also part of the program. From the beginning, I felt that this activity would be a great time to learn, serve, and strengthen teamwork with my friends.

On the first day, our group started discussing and planning the activities. We decided what needed to be prepared, how the tasks should be divided, and when each activity would take place. We also created a report as a form of responsibility to be submitted to the school and the church. The process of preparing the report and aligning our schedules was quite tiring, but we finally managed to finish it through good teamwork.

Once everything was clear, we began taking care of everything needed at the church. We also listed the equipment required for the Sunday school activities. After discussing with the service mentors, we set the activity schedule for three weeks.

The first week was the inventory activity. In this activity, my friends and I worked together with the Sunday school mentors to clean the room, organize the items, and sort the supplies that were scattered around. Even though it seemed simple, this activity was quite exhausting because we had to make sure everything was neat, clean, and ready to be used properly for the Sunday school activities.

The second week was the Sunday school service activity. This activity was divided into three classes: the toddler–infant class, the younger children’s class, and the older children’s class. We assisted the Sunday school mentors in teaching, leading prayers, guiding activities, and helping maintain order among the children. Each class had its own challenges, and I learned a lot about how to communicate with children according to their age.

The third week became the highlight of our activities. We taught Sunday school again, but this time we switched classes so we could experience something new. I had the opportunity to teach in the toddler–infant class. This experience was quite exhausting because children at this age are very active, easily bored, and need a very patient approach. Even so, it felt incredibly rewarding to see them laugh, join the activities, and feel happy with our presence.

After completing all the service activities, we began preparing our presentation module using Canva. We divided the tasks, collected documentation, and wrote a complete report about everything we had done. The process took time, but it was carried out with great teamwork and coordination.

Finally, the presentation day arrived. My friends and I felt nervous, but thank God, our presentation went smoothly and successfully. There were no significant obstacles, and the teachers appreciated our hard work.

As the closing activity, we created a poster together and put it on the school bulletin board as documentation and a form of reflection on the activities we had completed.

From the entire Saint Mary Ways program, I gained so many valuable lessons. I learned to become a more patient person, to care more about others, and to appreciate teamwork even more. Working with the Sunday school children also taught me that every person—especially young children—needs a loving and thoughtful approach.

This activity also strengthened the bond between my friends and me. We learned to solve problems together, cover each other’s weaknesses, and work without putting anyone down. I feel incredibly grateful to have had this experience. If given the chance, I would absolutely love to do this kind of activity again.

Saint Mary Ways was not just a regular school project—it was a journey that taught us moral values, empathy, and togetherness. This experience will always remain one of the most memorable moments of my junior high school years.


Selasa, 18 November 2025

saint mary way





Halooo semuanyaa!!!

Pada kesempatan kali ini, aku ingin menceritakan pengalaman aku ketika mengikuti kegiatan Saint Mary Ways. Kegiatan ini merupakan sebuah proyek sekolah yang diadakan untuk siswa kelas 9 SMP Santa Maria. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar kami dapat meneladani nilai-nilai dan keteladanan dari Bunda Maria, terutama dalam hal kepedulian, ketulusan, serta pelayanan kepada sesama. Saat pertama kali mendengar bahwa kami akan mengikuti kegiatan ini, aku merasa sangat senang dan bersemangat. Aku tahu bahwa kegiatan ini pasti akan memberikan pengalaman baru yang berharga.

Dalam kegiatan ini, kami dibagi ke dalam kelompok berdasarkan gereja masing-masing. Aku berada satu kelompok dengan Nashya, Clo, Nathan, dan Rafael. Kami sepakat untuk melaksanakan kegiatan di gereja kami yaitu GPIB Maranatha, dan fokus utama kami adalah membantu dalam kegiatan sekolah minggu. Selain itu, beberapa kegiatan lain seperti doa lingkungan, koor, serta kunjungan ke panti wreda dan panti asuhan juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatannya. Sejak awal, aku merasa kegiatan ini akan menjadi waktu yang baik untuk belajar, melayani, dan mempererat kerja sama dengan teman-temanku.

Pada hari pertama, kelompok kami mulai berdiskusi dan menyusun rencana kegiatan. Kami menentukan apa saja yang harus kami persiapkan, bagaimana pembagian tugasnya, serta kapan kegiatan tersebut akan dilakukan. Selain itu, kami juga membuat laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban yang harus diberikan kepada pihak sekolah dan gereja. Proses penyusunan laporan dan penyamaan jadwal ini cukup melelahkan, tetapi akhirnya kami berhasil menyelesaikannya dengan kerja sama yang baik.

Setelah semuanya jelas, kami mulai mengurus segala hal yang diperlukan di gereja. Kami juga mendata perlengkapan yang perlu dipersiapkan untuk kegiatan sekolah minggu. Setelah berdiskusi dengan kakak-kakak layan, kami menentukan jadwal kegiatan selama tiga minggu.





Minggu pertama adalah kegiatan inventaris. Pada kegiatan ini, aku dan teman-teman bekerja sama dengan kakak-kakak layan untuk membersihkan ruangan, menata barang-barang, serta mengelompokkan perlengkapan yang tercecer. Walaupun terkesan sederhana, kegiatan ini cukup menguras tenaga karena kami harus memastikan semuanya rapi, bersih, dan bisa digunakan dengan baik untuk kegiatan sekolah minggu.



Minggu kedua adalah kegiatan pelayanan sekolah minggu. Kegiatan ini dibagi ke dalam tiga kelas, yaitu kelas balita–batita, kelas kecil, dan kelas besar. Kami membantu kakak-kakak layan dalam mengajar, membimbing doa, mendampingi aktivitas, hingga membantu menjaga ketertiban adik-adik. Setiap kelas memiliki tantangan masing-masing, dan aku belajar banyak tentang bagaimana berkomunikasi dengan anak-anak sesuai usia mereka.



Minggu ketiga menjadi puncak kegiatan kami. Kami kembali mengajar sekolah minggu, tetapi kali ini kami bertukar kelas agar bisa merasakan pengalaman baru. Aku mendapat kesempatan mengajar di kelas balita–batita. Pengalaman ini cukup melelahkan karena anak-anak di usia ini sangat aktif, mudah bosan, dan perlu pendekatan yang sangat sabar. Walaupun begitu, rasanya menyenangkan sekali melihat mereka tertawa, mau mengikuti kegiatan, dan merasa senang dengan kehadiran kami.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan pelayanan selesai, kami mulai menyusun modul presentasi menggunakan Canva. Kami membagi tugas, mengumpulkan dokumentasi, dan menulis laporan lengkap mengenai kegiatan yang sudah kami lakukan. Proses ini memakan waktu, tetapi dikerjakan dengan penuh kerja sama dan kekompakan.

Akhirnya tibalah hari presentasi. Aku dan teman-temanku merasa deg-degan, tetapi Puji Tuhan, presentasi kami berjalan dengan lancar dan sukses. Tidak ada kendala berarti dan guru-guru memberikan apresiasi atas kerja keras kami.

Sebagai kegiatan penutup, kami membuat sebuah poster bersama dan memasangnya di mading sekolah sebagai dokumentasi dan bentuk refleksi atas kegiatan yang sudah kami selesaikan.

Dari seluruh rangkaian kegiatan Saint Mary Ways ini, aku mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga. Aku belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peduli kepada sesama, dan lebih menghargai kerja sama dalam kelompok. Menghadapi anak-anak sekolah minggu juga membuatku memahami bahwa setiap orang, apalagi anak kecil, butuh pendekatan dengan cara yang penuh kasih.

Kegiatan ini juga membuat hubungan aku dan teman-temanku semakin kuat. Kami belajar memecahkan masalah bersama, saling menutupi kekurangan, dan bekerja tanpa saling menjatuhkan. Aku merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan pengalaman seperti ini. Jika diberi kesempatan, aku sangat ingin melakukan kegiatan seperti ini lagi.

Kegiatan Saint Mary Ways bukan hanya proyek sekolah biasa, tetapi perjalanan yang mengajarkan banyak nilai moral, empati, dan kebersamaan. Pengalaman ini akan selalu aku ingat sebagai salah satu momen paling berkesan dalam masa SMP-ku.


Selasa, 11 November 2025

persiapan asas



 Halooo semuanyaa!!

Jadi seperti yang kita tau, kalau sekarang kita sedang menjelang menuju penilaian akhir semester. Maka pastinya ada yang perlu kita siapkan. Jadi di artikel ini aku akan menjelaskan apa saja yang harus kita siapkan untuk ulangan nanti.

Yang pertama adalah materi, materi yang diperlukan seperti materi dari mata pelajaran yang akan diulangankan, karena hal ini sangat penting untuk menjadi bahan belajar kita. Materi juga dapat menguatkan pengetahuan kita seperti bagaimana batasan batasan materi nya nanti. Materi juga dapat menguatkan tingkat pemahaman kita.

Yang kedua adalah menyiapkan mental, mental sangat penting karena banyak kasus yang beredar tentang anak-anak yang tidak sanggup melanjutkan asas, maka kami pun harus menyiapkan mental kita.

Maka itulah semua yang harus kita persiapkan untuk pengerjaan asas.